Analisis Degradasi Penutup Hutan Di Perkotaan Menggunakan Model Forest Canopy Density Studi Kasus : Kota Bandar Lampung

Adam Irwansyah Fauzi, Agung Budi Harto, Dudung Muhally Hakim, Redho Surya Perdana

Abstract


Salah satu faktor utama terjadinya perubahan iklim yang sedang berlangsung saat ini adalah akibat emisi yang ditimbulkan oleh degradasi hutan, yaitu mencapai sekitar 20% dari seluruh emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Di Indonesia, degradasi hutan salah satunya banyak terjadi di kawasan perkotaan, tak terkecuali di Kota Bandar Lampung. Mengingat peran hutan yang begitu vital, banyak bidang-bidang keilmuan yang diaplikasikan untuk mengamati fenomena degradasi hutan, tak terkecuali teknologi penginderaan jauh (inderaja). Salah satu metode pengolahan citra yang sering diaplikasikan untuk mengamati hutan adalah model Forest Canopy Density (FCD). FCD merupakan suatu model yang dikembangkan oleh Atsushi Rikimaru untuk keperluan analisis dan pemantauan perkembangan hutan secara kuantitatif. Dari hasil pengolahan data dan analisis, antara rentang tahun 2009 hingga tahun 2015, Kota Bandar Lampung mengalami degradasi hutan sebesar 1002,75 ha. Meskipun demikian, secara keseluruhan degradasi terjadi pada kawasan budidaya yaitu mencapai 92,03%, sedangkan kawasan lindung hanya terdegradasi sebesar 7,97%. Selain itu, terdapat beberapa wilayah teridentifikasi mengalami peningkatan persentase penutup hutan, diantaranya terdapat pada kawasan hutan, permukiman dan pesisir pantai.

Full Text:

PDF

References


A. Rikimaru, P. S. Roy, and S. Miyatake, “Tropical Forest Cover Density Mapping,”. Tropical Ecology, vol. 43, pp. 39-47, January 2002.

A. Ozbakir and A. Bannari, “Performance of TDVI in Urban Land Use/Cover Classification for Quality of Place Measurement,” in Proceedings of The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, 2008, pp. 691-694.

Badan Pusat Statistik Kota Bandar Lampung, Bandar Lampung Dalam Angka 2015, 2015.

F. F. Sabins, Remote Sensing (Principles and Interpretation 3rd Edition). Long Grove. Illinois: Waveland Press, 2007.

P. Harjasa, D. Zulkaidi, and A. S. Ekomadyo, “Pengaruh Perubahan Guna Lahan dan Intensitas Guna Lahan terhadap Kualitas Ruang Kota. In Prosiding Temu Ilmiah IPLBI, 2016, pp. 105-110.

Japan Overseas Forestry Consultants Association (1996), “Utilization of Remote Sensing in Site Assessment and Planning for Rehabilitation of Logged-Over Forest,” International Tropical Timber Organization, Project Report on PO 32/93 Rev.2 (F).

J. Siahaan, “Ruang Publik : Antara Harapan dan Kenyataan,” Buletin Tata Ruang Edisi IV, Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional, Juni-Juli, 2010.

Pedoman CIFOR tentang hutan, perubahan iklim dan REDD, Center for International Forestry Research, 2010.

Peraturan Pemerintah No. 104 Tahun 2015 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan

Soenarmo, S. H. (2009). Penginderaan Jauh dan Pengenalan Sistem Informasi Geografis Untuk Bidang Ilmu Kebumian. Bandung: ITB.

Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Kehutanan

Y. Guo and F. Zeng, “Atmospheric Correction Comparison of SPOT-5 IMAGE Based on Model FLAASH and Model QUAC,” in Proceedings of 21st International Society for Photogrammetry and Remote Sensing Congress, 2012, pp. 7-11.




DOI: https://doi.org/10.31315/jmel.v3i2.3057

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




This Journal indexed to :

Crossref Content Registration

Crossref Content Registration

JMEL on GS

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Statistik Jurnal Statistik Jurnal